Penelitian mengenai anthrax sebagai senjata biologis dimulai lebih dari 80 tahun yang lalu. Saat ini diketahui tidak kurang dari 17 negara dipercaya mengembangkan program pertahanan senjata biologis, akan tetapi tidak diketahui secara tepat berapa di antaranya yang menggunakan anthrax. Hanya Amerika Serikat dan Rusia mengakui bahwa negara tersebut melakukan penelitian tentang anthrax sebagai senjata biologis.
Persyaratan pertama untuk mengembangkan anthrax sebagai senjata biologis adalah membuat spora dalam bentuk aerosol. Spora anthrax di alam cenderung menggumpal dalam ukuran partikel yang sulit untuk diisap. Hal inilah yang menyebabkan spora anthrax secara alamiah dikatakan sebagai senjata biologis yang lemah. Untuk membuatnya menjadi aerosol diperlukan sejumlah besar spora yang ditumbuhkan dan dipupuk di laboratorium, kemudian dimurnikan dan dikombinasikan dengan bahan tepung halus untuk mencegah spora tersebut menggumpal. Dalam bentuk cairan, spora akan cenderung menggumpal, sehingga lebih mudah jatuh ke tanah daripada bertahan di udara. Pada saat Perang Teluk, Irak menggunakan anthrax sebagai senjata biologis dalam bentuk cairan.
Untuk menghasilkan tepung, spora harus pertama-tama dicuci beberapa kali dalam suatu alat centrifuge yang besar dan mahal. Kemudian harus digunakan alat pengering dan setelah itu disemprotkan ke dalam alat yang hampa udara, sehingga tepung tetap dalam keadaan terurai. Apabila tidak, maka spora akan kembali menggumpal ke dalam bentuk yang keras. Dalam hal ini, tepung juga digunakan sebagai media untuk membantu spora tetap bertahan di udara selama mungkin setelah dilepaskan. Untuk efektif sebagai senjata biologis, spora anthrax dibuat sedemikian rupa sehingga tetap bertahan di udara dalam konsentrasi memadai untuk memungkinkan korban menghirupnya dalam jumlah besar.
Anthrax dalam bentuk tepung pun tidak akan terus bertahan di udara. Spora akan jatuh ke tanah secara cepat pada kondisi di mana tidak ada angin. Anthrax tidak dapat beradaptasi dengan penyebaran melalui udara.
Para ahli menyatakan bahwa ukuran spora anthrax secara individual adalah sekitar 1-5 mikron. Partikel yang berukuran lima mikron atau lebih biasanya terperangkap di bagian atas alat pernafasan. Untuk efektif sebagai senjata biologis, spora anthrax hasil rekayasa di laboratorium dibuat berukuran kurang dari satu mikron, sehingga secara mudah dapat mencapai paru-paru.
Dengan demikian untuk kepentingan pengembangan senjata biologis, para ahli telah melakukan penelitian laboratorium terhadap spora anthrax selama bertahun-tahun dan berhasil mengubah penampilan fisik dan susunan DNA-nya, sehingga menjadi jauh lebih berbahaya daripada spora anthrax yang hidup di alam.
Pada tahun 1970, suatu analisis yang dibuat oleh WHO menyimpulkan bahwa pelepasan spora anthrax sebagai senjata biologis ke udara melawan arah angin pada suatu populasi lima juta orang diperkirakan akan menyebabkan 250.000 korban dan 100.000 di antaranya akan meninggal dunia. Suatu analisis lebih baru yang dibuat oleh Kongres Amerika Serikat memperkirakan bahwa 130.000 sampai 3 juta orang akan meninggal dunia setelah pelepasan 100 kg spora anthrax ke udara di atas Washington DC, sehingga serangan anthrax yang mematikan ini dapat disejajarkan dengan bom atom.
Untuk menghasilkan tepung, spora harus pertama-tama dicuci beberapa kali dalam suatu alat centrifuge yang besar dan mahal. Kemudian harus digunakan alat pengering dan setelah itu disemprotkan ke dalam alat yang hampa udara, sehingga tepung tetap dalam keadaan terurai. Apabila tidak, maka spora akan kembali menggumpal ke dalam bentuk yang keras. Dalam hal ini, tepung juga digunakan sebagai media untuk membantu spora tetap bertahan di udara selama mungkin setelah dilepaskan. Untuk efektif sebagai senjata biologis, spora anthrax dibuat sedemikian rupa sehingga tetap bertahan di udara dalam konsentrasi memadai untuk memungkinkan korban menghirupnya dalam jumlah besar.
Anthrax dalam bentuk tepung pun tidak akan terus bertahan di udara. Spora akan jatuh ke tanah secara cepat pada kondisi di mana tidak ada angin. Anthrax tidak dapat beradaptasi dengan penyebaran melalui udara.
Para ahli menyatakan bahwa ukuran spora anthrax secara individual adalah sekitar 1-5 mikron. Partikel yang berukuran lima mikron atau lebih biasanya terperangkap di bagian atas alat pernafasan. Untuk efektif sebagai senjata biologis, spora anthrax hasil rekayasa di laboratorium dibuat berukuran kurang dari satu mikron, sehingga secara mudah dapat mencapai paru-paru.
Dengan demikian untuk kepentingan pengembangan senjata biologis, para ahli telah melakukan penelitian laboratorium terhadap spora anthrax selama bertahun-tahun dan berhasil mengubah penampilan fisik dan susunan DNA-nya, sehingga menjadi jauh lebih berbahaya daripada spora anthrax yang hidup di alam.
Pada tahun 1970, suatu analisis yang dibuat oleh WHO menyimpulkan bahwa pelepasan spora anthrax sebagai senjata biologis ke udara melawan arah angin pada suatu populasi lima juta orang diperkirakan akan menyebabkan 250.000 korban dan 100.000 di antaranya akan meninggal dunia. Suatu analisis lebih baru yang dibuat oleh Kongres Amerika Serikat memperkirakan bahwa 130.000 sampai 3 juta orang akan meninggal dunia setelah pelepasan 100 kg spora anthrax ke udara di atas Washington DC, sehingga serangan anthrax yang mematikan ini dapat disejajarkan dengan bom atom.
0 komentar:
Poskan Komentar